by Johanes Lim
May we never let the things we can’t have, or don’t have, or shouldn’t have, spoil our enjoyment of the things we do have and can have. As we value our happiness, let us not forget it, for one of the greatest lessons in life is learning to be happy without the things we cannot or should not have.
Richard Evans
Semoga kita tidak pernah mengijinkan hal yang tidak bisa kita miliki, atau tidak seharusnya memiliki, menghancurkan kegembiraan kita terhadap hal yang kita miliki atau yang bisa kita miliki. Karena kita menghargai kebahagiaan, janganlah sampai lupa bahwa satu dari pengajaran terbaik dalam hidup adalah belajar untuk menjadi bahagia tanpa sesuatu yang tidak bisa atau tidak seharusnya kita miliki
Richard Evans
Ada peribahasa yang berbunyi, “Neighbor’s grass looks greener”, atau rumput tetangga nampak lebih hijau dibandingkan rumput dihalaman kita!
Kalau kita perluas menjadi, istri tetangga lebih bahenol dan nampak lebih “yummy” dibandingkan istri kita; suami tetangga nampak lebih macho dan lebih hebat dibandingkan suami kita; dan seterusnya, sampai ke kucing tetangga nampak lebih merdu meongannya dibandingkan kucing kita!
Padahal, kalau kita flash-back (napak tilas) tentang bagaimana susahnya dulu ketika kita berjuang dan bersaing dengan banyak pria memperebutkan hati calon istri kita!? Coba ingat kembali apa yang Anda lakukan ketika masa PDKT (pendekatan) itu? Seperti kata lirik sebuah lagu, “Aku makan ingat kamu, mandi ingat kamu, tidur ingat kamu, dipiring ada kamu!?”
Coba ingat lagi, betapa berbunga-bunganya perasaan Anda ketika untuk pertama kalinya “si dia” menerima pernyataan cinta Anda? Betapa bahagianya hidup Anda sejak saat itu, sampai menganggap bahwa dunia ini hanya milik berdua? (yang lainnya indekost?) Lantas, setelah Anda memilikinya, menikahinya, sampai suatu hari, mengapa Anda merasa bahwa istri tetangga (istilah ini boleh diubah menjadi istri teman, atau bawahan, atau teman kantor, dll) nampak lebih menggairahkan dari istri sendiri? Mengapa Anda berubah setia? Mengapa Anda menodai kepercayaan pasangan Anda? Kemana perasaan cinta pertama yang menggebu-gebu itu?
Sebelum saya menjelaskannya, maka saya akan membiarkan Anda melangkah lebih jauh.
Ketika seorang pria berkata bahwa, “Saya meninggalkan istri saya, karena jatuh cinta terhadap perempuan lain!”, maka itu bukanlah riwayat baru, hanya pengulangan terhadap kisah lama, yang dianggap baru, ibarat hamster yang merasa sudah berlari kesana kemari diroda yang berputar, padahal tidak kemana mana; persis seperti orang yang mengobral kata cinta, akan mudah melupakan cinta, seperti orang haus yang diberi minum air garam, akan bertambah haus!
Dalam hitungan bulan, ketika Anda sudah bosan menikmati “cinta” Anda, maka perempuan bagaimana bahenolpun, ketika sudah sering Anda nikmati, akan terasa biasa saja; dan perasaan bosan mulai timbul, dan mulai melirik kanan kiri, sampai suatu hari orang seperti itu akan berkata, “Aha! Saya telah menemukan cinta sejati saya!”, dan mencampakkan perempuan yang sebelumnya Anda klaim sebagai “cinta sejati Anda!?”
Mengapakah kata “Berbahagia” menjadi istilah yang enak didengar, mempesona, dan membuat semua orang mengejar kebahagiaan agar menjadi miliknya; lebih tepatnya adalah, agar ia bisa hidup berbahagia!
Ada yang menganggap bahwa kebahagiaan itu jika ia telah memilki “anu” atau mencapai “inu”; namun ketika “anu” dan “inu” itu sudah tercapai, orang juga tidak merasa bahagia; dan menganggap bahwa kalau saya bisa menjadi “anu inu” maka saya pasti bahagia. Setelah berjuang kalang kabut, pontang panting, penuh pergumulan dan penderitaan serta pengorbanan, maka jadilah ia sebagai si “anu inu”, dan berharap bahwa ia sudah boleh menikmati hidup bahagia; ternyata tidak! Ia belum merasa bahagia!
Bahkan ia merasa sangat sedih ketika menyadari bahwa dalam upayanya mengejar kebahagiaan dengan target menjadi “anu inu”, ia telah kehilangan keharmonisan rumah tangga, istrinya depresi karena kesepian, anaknya menjadi berandalan karena merasa tidak diperdulikan, dan ia menjadi nampak lebih tua dari usia biologisnya, karena bekerja keras lupa santai.
Orang seperti itu menjadi kecewa, bingung, sedih, dan frustrasi, serta berteriak entah kepada siapa, “Mengapa? Mengapa? Mengapa begitu sukar menjadi orang yang berbahagia? Dengan banyak hal yang saya miliki, mengapakah saya tetap tidak bisa merasa bahagia?!”
Saya turut prihatin.
Saya turut beremphati.
Namun sepertinya ada yang salah dalam kasus seperti diatas, “MENGEJAR KEBAHAGIAAN”; dianggapnya kebahagiaan adalah seperti sesuatu yang berlari kencang?! Apakah kebahagiaan sejenis kuda, sehingga bisa berlari dan harus dikejar untuk mendapatkannya?
Kalau menurut saya, bahagia itu adalah SIKAP HATI. Bahagia bukanlah tujuan akhir, melainkan keadaan yang bisa dinikmati kapan saja, dan bisa berlangsung terus menerus.
Berbeda dengan kesenangan, yang seringkali berkonotasi mengeluarkan biaya; bahagia jauh lebih mudah untuk diperoleh dan dinikmati, karena gratis!
Kalau tahu esensinya, dan tahu caranya, menjadi bahagia itu bisa dilakukan kapan saja, dan oleh siapa saja, tanpa memperdulikan latar belakang seseorang, apakah kaya atau miskin, normal atau cacat, pria atau wanita, muda atau tua, seperti yang dianjurkan oleh Richard Evans:
Semoga kita tidak pernah mengijinkan hal yang tidak bisa kita miliki, atau tidak seharusnya memiliki, menghancurkan kegembiraan kita terhadap hal yang kita miliki atau yang bisa kita miliki. Karena kita menghargai kebahagiaan, janganlah sampai lupa bahwa satu dari pengajaran terbaik dalam hidup adalah belajar untuk menjadi bahagia tanpa sesuatu yang tidak bisa atau tidak seharusnya kita miliki
Sungguh saudaraku, kita menganggap untuk bisa berbahagia itu begitu sukar, perlu syarat ini dan itu, harus mempunyai ini dan itu; sesungguhnya untuk berbahagia itu mudah, cukup memiliki kemampuan untuk mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki. Anda punya uang Rp.20.000,- saja? Syukurilah, dan kelolalah agar bisa Anda nikmati dengan baik. Masih banyak orang yang tidak mempunyai uang Rp.20.000,- atau punya uang tapi tidak bisa menikmatinya; karena itu, Anda patut bersyukur memilikinya, dan bisa menikmatinya.
Jangan meremehkan apa yang Anda miliki, karena mengharapkan apa yang belum Anda miliki. Hargai apa yang sudah ada, karena itulah milik Anda yang sejati, pada saat ini.
Sebab jika Anda tidak melakukan seperti ini, melainkan merasa kurang, karena hanya memiliki Rp.20.000,-, dan berandai-andai bahwa Anda memiliki Rp.1 juta; maka Anda akan merasa malang, karena tidak memiliki uang Rp.1 juta, hanya Rp.20 ribu saja!
Kalau itu yang Anda lakukan, maka saya berani katakan bahwa Anda memang orang malang! Uang Rp.1 juta tidak didapat, malahan kehilangan makna dari uang Rp.20 ribu yang Anda miliki!?
Ada kisah yang bagus dan berselera humor tinggi, yang membahas tentang menikmati hidup:
Ada seorang pengusaha sukses kaya yang menghampiri seseorang yang sedang asyik memancing ikan didanau. Pengusaha itu melihat dan menilai bahwa sipemancing terlihat kumuh dan miskin, maka ia memulai percakapan, “Apakah memancing ikan adalah pekerjaanmu?”, dan sipemancing menjawab, “Bukan pak, saya kerja serabutan. Ini cuma hobby saja, sambil mencari tambahan lauk untuk makan malam”; sang pengusaha bertanya, “Lantas, kenapa Anda tidak bekerja lebih keras agar mendapat lauk tanpa harus memancing?”, dan sipemancing bertanya, “Lho, kerja keras untuk apa pak?”, dan sipengusaha menjawab, “Ya supaya Anda banyak uang, kaya raya!”, dan sipemancing kembali bertanya, “Lantas, kalau sudah banyak uang kaya raya, untuk apa pak?”, dan si pengusaha menjawab, “Supaya Anda bisa santai, punya banyak waktu untuk menikmati hidup dan hobby Anda!”, dan sipemancing tertawa, “Lha, kalau hanya untuk punya banyak waktu menikmati hobby, untuk apa harus bekerja keras segala pak? Sekarang saja saya sudah santai menikmati hobby kok!?”.
Si pengusaha mengangguk-anggukan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Jadi, yang keliru itu siapa atau apa yaa?? Saya yang sudah mempunyai banyak harta dan kehormatan, namun tidak punya waktu untuk menikmatinya!?”
Bukan maksud Johanes Lim mengajarkan Anda cara bermalas ria, atau menjadi orang yang pasif dan enggan berjuang, BUKAN!
Saya hanya ingin menekankan bahwa KEBAHAGIAAN BUKANLAH TUJUAN AKHIR, MELAINKAN PROSES YANG BISA DINIKMATI DARI AWAL SAMPAI AKHIR, DARI SEKARANG SAMPAI NANTI!
Kalau menganggap kebahagiaan adalah target akhir, maka sepanjang perjalanan hidup Anda isinya hanyalah perjuangan dan pergumulan saja! bagaimana jika sebelum sampai garis finish, sebelum Anda sempat menikmati hidup, Anda sudah dipanggil TUHAN? Mati penasaran, bukan?
Kalau Anda mengikuti saran saya, maka sepanjang perjalanan dan perjuangan hidup, Anda tetap bisa menikmati hidup, merasakan kebahagiaan dari apa yang sudah Anda miliki, dan bukan dari apa yang belum Anda miliki.
Andaikan kelak Anda sukses mencapai garis finish, ya tambah bersyukur, double happiness: kebahagiaan dan kebanggaan!
Andaikan keburu dipanggil TUHAN, ya sudah, Anda tidak penasaran, karena sudah menikmati hidup, sejak mulai start!